Kan Bukan Aku Yang Salah

16.52


Happy Chinese New Year bagi yang merayakan!

I really enjoy my chinese new year. Selain karena tahun ini masih dapet angpau, aku bisa bangun cukup siang kemarin. Trus bisa jalan-jalan santai tanpa diburu-buru waktu sama Papa Mama di Grand Indonesia, kumpul-kumpul sama keluarga yang jaraaang bangeet ketemu, makan, ngobrol-ngobrol sampe rumah 1/2 1 pagi!hahaha. Sampe rumah tepar tapi seneng!! 

Kali ini aku mau menceritakan sesuatu yang udah flash back. Since i'm an #EnthusiastStoryteller, i have a lot of story because God is working in my life =)

Jadi aku nih salah satu pemimpin COOL (komsel) di Youth Velos. Aku punya salah satu anggota yang 'unik'. Umur-nya baru 23 tahun tapi pengalaman hidupnya setara dengan orang umur 40 tahun. Mama-nya married beberapa kali, jadi dia 5 bersaudara dengan Papa yang berbeda. Kurang perhatian iyaa, diperlakukan kasar iyaa. Udah jadi janda, pokoknya hidupnya keras banget lebih keras daripada batu kayaknya.Hasilnya adalah dia jadi seorang cewe yang cari perhatian banget, kalo udah ngomong nggak bisa stop, sering cerita hal-hal yang ntah kebenarannya gimana. 

Sekitar 2-3 bulan lalu, anggota COOL yang lain yang juga temen pelayanan di Youth bilang kalo anak ini sensi sama aku dengan alesan super nggak jelas. Inti-nya nggak suka ajaa, emang anak ini bisa tiba-tiba sensitif sama orang dengan alesan nggak jelas. Di bulan November awal, dia pergi ke Cina untuk sekolah lagi tapi ntah gimana tiba-tiba di pertengahan Desember dia balik ke Jakarta. 

Selama dia di Jakarta ini, ada beberapa kejadian dimana dia tiba-tiba sensi sama aku trus marah-marah nggak jelas. Padahal aku nggak melakukan hal yang menyebalkan. Aku nih orangnya tipikal yang nggak enakan, rasanya nggak damai banget kalo tau ada orang yang nggak suka sama aku. Walaupun aku nggak melakukan kesalahan apa-apa. 

Aku sempet curhat sama temen-ku, tanya aku harus gimana. Temen-ku menyarankan untuk kita ketemuan dan beresin hal ini. Tapi seperti yang aku ceritain di postingan sebelumnya, aku super sibuk di awal tahun kemarin. Waktu aku terbatas tapi yang mesti aku urusin banyak. Jadi aku pending terus tuh ketemuannya. 

Sampai suatu hari, waktu aku lagi baca Alkitab dan sampai kitab Markus, ada ayat ini : 

'Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain.' Markus 9:50b

Waktu baca ayat itu, di dalam hati masih ada rasa denial, 'kan bukan aku yang sensi, kenapa mesti aku yang mulai duluan? aku nggak ngerasain apa-apa koq sama dia.' 

Tapi ayat ini terngiang-ngiang terus di hati aku dan itu jadi alarm bahwa aku nggak boleh denial terus. Aku yang tau kebenarannya, aku yang harus bergerak duluan. 
So, aku minta temen-ku buat arrange waktu ketemuan dengan dia. Total yang ketemuan ada 4 orang, jadi aku, 2 temen-ku dan si doi. Sebelum kita ketemuan, kita sampe udah atur rencana gimana caranya supaya doi mau ngaku soal kesebelan dia sama aku. Pokoknya udah pasang strategi ini itu deh.hahaha. 

Aku juga nggak lupa berdoa, sia-sia lah semua strategi kalau kita nggak mengandalkan Tuhan. Aku cuma berdoa, 'Tuhan tolong supaya pertemuan 2 jam nanti itu maksimal. Ada sebuah breakthrough dan Firman Tuhan dibagikan.'

Waktu ketemuan-pun tiba. Kocak-nya, setelah dia datang (kebetulan dia yang terakhir dateng), dia langsung bilang gini, "Ci Kez, tau nggak aku tuh dari kemarin sensi banget sama cici!" Aku sempet melongo sebentar, karena segala strategi untuk membuat dia mau ngaku itu nggak dipake. Tiba-tiba dia ngaku!hahaha. Itulah kalau kuasa Tuhan ikut bekerja =) 

Nih kalo mau tau kadar 'konyol'-nya dia, ada 1 pengakuan dimana dia sebel banget sama aku :
Jadi waktu itu aku lagi membantu sebagai EO (Event Organizer) di Gereja Pluit. Suasana waktu itu lagi super ribet dan riweh, dia tiba-tiba manggil dan aku langsung bilang "Ntar, aku lagi sibuk!". Memang karena ribet-nya suasana, mungkin suara aku cukup tinggi. Dia kesel dan buang kado Natal untuk aku. Jadi dia manggil aku untuk kasih kado Natal. Trus langsung dia sensi berat sama aku.

hahahaha. 

Well, akhirnya aku menjelaskan dan malah dia yang say sorry. 

Aku menceritakan ini bukan untuk menceritakan bahwa dia yang aneh dan aku yang waras. Tapi yang jadi point dari cerita aku ini adalah bukan soal menang atau kalah tapi soal mengusahakan perdamaian. 

Hey, hidup kita ini berhak merasakan damai. Hidup ini cuma sekali, jangan habiskan untuk memelihara kebencian di hidup kita. Dalam hubungan (apapun), yang terpenting bukan siapa yang lebih benar tapi siapa yang mau lebih dewasa untuk mengusahakan perdamaian.

Kalau responnya benar, konflik sebesar apapun pasti bisa selesai. 

Sakit? Yes.

Tapi hidup damai itu mahal harganya. 


You Might Also Like

2 komentar

  1. Nice kez. Butuh banyak baca kesaksian kayak gini hari2 ini. Lucu ya temenmu. Orang jujur kayak gtu jarang2.

    BalasHapus

pliss give your comments to encourage me :)

Subscribe